June 13, 2021

RADIOTEMA

MEDIA INFORMASI TERUPDATE

AS setuju hak paten vaksin Covid-19 dilonggarkan


RADIOTEMA – WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) mendukung pelonggaran hak paten vaksin Covid-19 bagi negara-negara berkembang yang membutuhkan vaksin. Dengan begitu, produksi vaksin Covid-19 bisa lebih meluas.

Guna memuluskan rencana tersebut, AS juga mendukung negosisasi antara pelaku industri dan negara asal pengembang vaksin melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Ini adakah krisis kesehatan global, dan keadaan luar biasa. Kami menyerukan tindakan luar biasa di tengah kekhawatiran berkembangnya wabah besar di India yang dapat memungkinkan munculnya varian mematikan dan kebal terhadap vaksin,” kata Duta Besar Perdagangan AS Katherine Tai seperti dikutip Reuters, Kamis (6/5).

Tai menyatakan negosiasi ini akan memakan waktu. Namun Amerika Serikat akan terus mendorong peningkatan produksi, distribusi, penyediaan bahan mentah yang diperlukan untuk memproduksi vaksin di seluruh dunia.

Baca Juga: Rekor baru, India kembali laporkan lebih dari 400.000 kasus virus corona dalam sehari

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut, langkah AS ini sebagai momen penting  untuk perang melawan Covid-19. Ia menilai, ini merupakan cermin kebijaksanaan dan kepemimpinan di Amerika.

Namun rencana negoisasi itu akan memakan waktu cukup lama. Sebab, bisnis perusahaan farmasi akan terganggu oleh rencana pembebasan vaksin tersebut setelah mereka mengantongi pendapatan dan keuntungan besar selama pandemi.

Bahkan, langkah Presiden AS Joe Biden ini juga dikhawatirkan akan menganggu perusahaan dalam menangani Covid-19 serta membahayakan keselamatan.

Salah satu sumber Reuters di industri farmasi mengatakan, perusahaan AS akan berjuang untuk memastikan pelonggaran hak paten itu bisa disetujui dengan batasan-batasan.

Biden mendukung pelonggaran hak paten tersebut sejak kampanye presiden 2020 lalu. Saat itu, ia berjanji untuk terlibat kembali demi memenuhi kepentingan masyarakat dunia.

Namun, Biden berada di bawah tekanan untuk membagikan pasokan vaksin Covid-19 dan teknologi dari AS ke negara lain. Namun keputusan itu ia tetap ambil di tengah dahsyat wabah di India , yang menyumbang 46% dari kasus Covid-19 di dunia. Bahkan, muncul tanda-tanda wabah ini akan menyebar ke Nepal, Sri Lanka dan negara tetangga lainnya.

Pernyataan AS ini membuka jalan negoisasi yang akan memakan waktu berbulan-bulan demi memuluskan pelonggaran tersebut. Apalagi, keputusan WTO membutuhkan persertujuan dari 164 anggota.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan beberapa negara lain menutup negosiasi terkait pelonggaran di WTO atas beberapa hak paten, teknologi serta peningkatan produksi vaksin di negara berkembang.

Sejumlah kritikus menyatakan, produksi vaksin itu rumit dan memerlukan persiapan fasilitas produksi yang baru, lalu mengalihkan sumber daya untuk meningkatkan produksi di lokasi yang ada. Mereka mengatakan, perusahaan farmasi di negara kaya dan berkembang telah melakukan lebih dari 200 perjanjian transfer teknologi untuk memperluas pengiriman vaksin.

Diketahui, pemerintah AS menggelontorkan dana miliaran dolar untuk biaya penelitian dan pembelian alat untuk vaksin tahun lalu ketika program vaksin masih dalam tahap awal pengembangan. Saat itu, masih tahap uji coba untuk membuktikan vaksin terbukti aman dan efektif melindungi dari serangan virus.

 

 



Source link